Kamis, 06 Januari 2011

Model Pendidikan Inklusif di Indonesia

    Melihat kondisi dan system pendidikan yang berlaku di indinesia, model pendidikan inklusi lebih sesuai adalah model yang mengasumsikan bahwa inklusi sama dengan mainstreaming, seperti pendapat Vaughn, Bos & Schumn.(2000). setiap sekolah dapat memilih model mana yang akan diterapkan, terutama bergantung kepada: jumlah anak berkelainan yang akan dilayani, jenis kelainan masing-masing anak, gradasi (tingkat) kelainan anak, ketersediaan dan kesiapan tenaga kependidikan, serta sarana -prasarana yang tersedia.
      Penempatan anak berkelainan di sekolah inklusif dapat di lakukan dengan berbagai model sebagai berikut:
   1. kelas reguler (inklusi penuh)
      anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.
   2. kelas reguler dengan cluster 
       anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus
   3. kelas reguler dengan pull out
      anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) dikelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu di tarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
   4 kelas reguler dengan cluster dan pull out
      anak berkelainan belajar bersama anak lain(normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus dan pada waktu-waktu tertentu di tarik dari kelas reguler untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

   5. kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian
      anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler